Showing posts with label Ilmu Sastra. Show all posts
Showing posts with label Ilmu Sastra. Show all posts

Friday, April 3, 2009

Definisi Kritik Sastra

Kritik adalah analisis untuk menilai suatu karya sastra. Tujuan kritik sebenarnya bukan menunjukkan keunggulan, kelemahan, benar/salah sebuah karya sastra dipandang dari sudut tertentu, tetapi tujuan akhirnya mendorong sastrawan untuk mencapai penciptaan sastra setinggi mungkin dan mendorong pembaca untuk mengapresiasi karya sastra secara lebih baik.

Ada 2 jenis kritik sastra:
  1. Kritik sastra intrinsik -> fokusnya pada karya sastra itu sendiri dan menganalisa unsur-unsur karya sastra itu.
  2. Kritik sastra ekstrinsik -> Menghubungkan karya sastra dengan hal-hal diluar karya sastra. Misal: menghubungkan karya sastra dengan pengarangnya, karya sastra dihubungkan dengan ilmu psikologi, agama, sejarah, filsafat.

Tuesday, March 24, 2009

Paragraph

Paragraph is a group of sentence expressing one complete idea/topic.

A good paragraph should be containing of:

1) Topic sentence/Introductory Sentence

- Dealing with one topic and statement/controlling about the topic

Ex: My father is a very efficient businessman.

- Should be general statement

- Should be able to be developed/explained/discussed.

Ex: I was sick last week or My sickness destroyed my activities.

2) Supporting sentence/details

- Very details concerning

- The topic discussed

- Can be explanation, definition, examples, analogy, etc.

- Competition

3) Concluding Sentences

- Restatement of the topic sentences

- Conclusion of the supporting sentences

- Opinion/impression of the writer toward topic sentence

- As a link to the next paragraph.

4) Connectives

- Numeration = Firstly, secondly,… finally

- Addition = and, also, in addition

- Contradiction = the contrast, conversely, but, however

- Reason = because, since, as

- Comparison = similarly, like

5) Punctuator = colon, semi colon, etc..

Tuesday, March 17, 2009

Essai

Essai adalah karangan pendek tentang suatu fakta yang dibahas menurut pandangan pribadi penulis.

Essai merupakan ungkapan pribadi penulis terhadap suatu fakta. Sebuah essai dapat membahas apa saja tidak selalu tentang sastra.

Essai digolongkan menjadi 2:
a. Essai Formal
Ditulis dengan bahasa yang lugas atau apa adanya dan memenuhi aturan penulisan yang baku serta undur pemikiran tentang analisis amat dipentingkan/difokuskan.
b. Essai Non Formal/Personal
Mempunyai gaya bahasa yang lebih bebas, semantara unsur pemikiran dan perasaan lebih leluasa masuk ke dalam essai tersebut.

Dari cara pembahasan, Essai dibagi menjadi 4:
1. Essai Deskripsi
Essai ini hanya menggambarkan suatu fakta dengan apa adanya tanpa ada kecenderungan si penulis untuk menjelaskan/menafsirkan fakta.
2. Essai Eksposisi
Essai jenis ini selain menggambarkan fakta juga menjelaskan sebab akibatnya.
3. Essai Argumentasi
Selain menunjukkan suatu fakta, essai ini juga menunjukkan permasalahan dan kemudian menganalisa dan mengambil analisa.
4. Essai Narasi
Essai yang menggambarkan suatu fakta dalam bentuk urutan yang kronologis dari sebuah cerita.

Sunday, March 8, 2009

Karya Sastra

Manfaat membaca karya sastra:
  1. Karya sastra besar memberi kesadaran kepada pembacanya tentang kebenaran-kebenaran hidup.
  2. Karya sastra memberikan kegembiraan dan kepuasan batin. Jadi hiburan yang diberikan adalah hiburan spiritual dan intelektual yang menurut banyak orang kadarnya lebih tinggi daripada kebahagiaan badani.
  3. Karya sastra besar itu karya seni dan memenuhi kebutuhan naluri manusia terhadap keindahan. keindahan adalah kodrat manusia.
  4. Karya sastra yang besar memberikan penghayatan yang mendalam terhadap apa yang kita ketahui.
  5. Membaca karya sastra besar menolong menjadikan pembacanya menusia berbudaya. Maksudnya manusia yang responsif/peka/bereaksi terhadap hal-hal yang luhur, yang baik dalam hidup ini.

Jenis-jenis Karya sastra:
  1. Karya sastra fiksi
  2. Karya sastra non fiksi.

Persamaan dan Perbedaan karya sastra fiksi dan non fiksi:

Persamaan -> dua-duanya mempunyai estetika seni (keutuhan, harmony, fokus, balance).

Perbedaan ->
  1. Karya sastra fiksi cenderung imajinatif, sedang non fiksi cenderung berupa fakta.
  2. Bahasa yang digunakan bermakna konotatif/kias, non fiksi bahasa yang digunakan bahasa ilmiah.
Jenis Karya sastra non fiksi/non imajinatif:
  1. Essai
  2. Kritik
  3. Biografi
  4. Autobiografi
  5. Sejarah
  6. Memoar
  7. Catatan harian
  8. Surat-surat
Jenis Karya Imajinatif:
  1. Prosa
  2. Puisi

Monday, February 23, 2009

Apakah sastra itu?

Menurut Sumardjo dan Sumaini, tahapan untuk mencapai definisi sastra secara global:
1. Sastra adalah seni bahasa.
2. Sastra adalah ungkapan spontan dari perasaan yang mendalam.
3. Sastra adalah ekspresi pikiran dalam bahasa.
4. Sastra adalah inspirasi kehidupan yang dimateraikan dalam sebuah bentuk keindahan.
5. Sastra adalah semua buku yang memuat perasaan kemanusiaan yang benar dan kebenaran moral dengan sentuhan kesucian, keluasan pandangan dan bentuk yang mempesona.

Ada beberapa hal yang menyebabkan pemberian definisi sastra sulit/tidak mungkin, yaitu:
1. Karena sastra itu bukan ilmu, sastra adalah seni.
2. Jika batasan/definisi sastra dibuat, maka akan sulit menjangkau semua jenis sastra. Batasan prosa berbeda dengan puisi apalagi tentang drama.
3. definisi biasanya tidak berhenti pada membuatdeskripsi saja, tetapi juga mencakup usaha penilaian. Seperti perasaan spontan (bagaimana mengukur spontan). Misal: penilaian.
4. Batasan sastra bersifat nature.

Dari batasan yang didapat ternyata mendapat unsur yang sama, yaitu isi sastra:
1. Pikiran, perasaan, pengalaman, ide-ide, semangat, keyakinan, kepercayaan.
2. Ekspresi/ungkapan.
3. Bentuk.
4. Bahasa.

Kemudian kesemuannya tersebut dijadikan satu definisi lagi, yaitu:
Sastra adalah ungkapan pribadi dari seseorang manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat, keyakinan dalam suatu bentuk gambaran konkret yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa.

Syarat-syarat keindahan:
1. Keutuhan/unity.
2. Keselarasan/harmony. -> Antar unsur tidak saling mnejatuhkan.
3. Keseimbangan/balance.
4. Fokus/pusat penekanan sesuatu unsur, atau disebut juga Rightemphesys.

Tuesday, February 3, 2009

Kritik Sosial

Kritik sosial adalah salah satu bentuk komunikasi dalam masyarakat yang bertujuan atau berfungsi sebagai control terhadap jalannya suatu system social atau proses bermasyarakat. Menurut Marbun, kritik social merupakan frase yang terdiri dari dua kata yaitu kritik dan social. Adapun yang dimaksud dengan kritik adalah suatu tanggapan atau kecaman yang kadang-kadang disertai dengan uraian dan pertimbangan baik maupun burukya suatu hasil karya, pendapat, dsb (1996:359). Sementara di sisi lain, Webster menjelaskan bahwa kata kritik berasal dari bahasa Latin criticus atau bahasa Yunani kritikos yang berarti a judge atau dari kata kinnea yang berarti to judge (1983:432).

Sementara itu sosial memiliki pengertian having to do with human beings living together as a group in a situation that they have dealing with another (Webster, 1983:1723).

Berdasarkan definisi dari dua kata tersebut, Astrid Susanto seperti yang dikutip oleh Mafud (1997:47) mengambil suatu kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan kritik sosial adalah suatu aktifitas yang berhubungan dengan penilaian (juggling), perbandingan (comparing), dan pengungkapan (revealing) mengenai kondisi sosial suatu masyarakat yang terkait dengan nilai-nilai yang dianut ataupun nilai-nilai yang dijadikan pedoman. Kritik sosial juga dapat diartikan dengan penilaian atau pengjian keadaaan masyarakat pada suatu saat (Mahfud, 1957:5). Dengan kata lain dapat dikatakan, kritik sosial sebagai tindakan adalah membandingkan serta mengamati secara teliti dan melihat perkembangan secaa cermat tentang baik atau buruknya kualitas suatu masyarakat. Adapun tindakan mengkritik dapat dilakukan oleh siapapun termasuk sastrawan dan kritik sosial merupakan suatu variable penting dalam memelihara system social yang ada.

Monday, February 2, 2009

Sosiologi Sastra

Sastra merupakan pencerminan masyarakat. Melalui karya sastra, seorang pengarang mengungkapkan problema kehidupan yang pengarang sendiri ikut berada di dalamnya. Karya sastra menerima pengaruh dari masyarakat dan sekaligus mampu memberi pengaruh terhadap masyarakat. Bahkan seringkali masyarakat sangat menentukan nilai karya sastra yang hidup di suatu zaman, sementara sastrawan sendiri adalah anggota masyarakat yang terikat status sosial tertentu dan tidak dapat mengelak dari adanya pengaruh yang diterimanya dari lingkungan yang membesarkan sekaligus membentuknya. Wellek dan Warren membahas hubungan sastra dan masyarakat sebagai
berikut:

Literature is a social institution, using as its medium language, a social
creation. They are conventions and norm which could have arisen only in society.
But, furthermore, literature ‘represent’ ‘life’; and ‘life’ is, in large
measure, a social reality, eventhough the natural world and the inner or
subjective world of the individual have also been objects of literary
‘imitation’. The poet himself is a member of society, possesed of a specific
social status; he recieves some degree of social recognition and reward; he
addresses an audience, however hypothetical. (1956:94)


Senada dengan pernyataan diatas, Damono mengungkapkan bahwa sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial. Dalam pengertian ini, kehidupan mencakup hubungan antar masyarakat, antar masyarakat dengan orang-seorang, antarmanusia, dan antarperistiwa yang terjadi dalam batin seseorang (2003:1). Bagaimanapun juga, peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang yang sering menjadi bahan sastra, adalah pantulan hubungan seseorang dengan orang lain atau dengan masyarakat dan menumbuhkan sikap sosial tertentu atau bahkan untuk mencetuskan peristiwa sosial tertentu.

Pendekatan terhadap sastra yang mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan itu disebut sosiologi sastra dengan menggunakan analisis teks untuk mengetahiu strukturnya, untuk kemudian dipergunakan memahami lebih dalam lagi gejala sosial yang di luar sastra (Damono, 2003:3).

Sosiologi adalah telaah tentang lembaga dan proses sosial manusia yang objektif dan ilmiah dalam masyarakat. Sosiologi mencoba mencari tahu bagaimana masyarakat dimungkinkan, bagaimana ia berlangsung, dan bagaimana ia tetap ada. Dengan mempelajari lembaga-lembaga sosial dan segala masalah ekonomi, agama, politik dan lain-lain — yang kesemuanya itu merupakan struktur sosial— kita mendapatkan gambaran tentang cara-cara manusia menyesuaikan diri dengan lingkungannya, tentang mekanisme sosialisasi, proses pembudayaan yang menempatkan anggota masyarakat di tempatnya masing-masing.

Sesungguhnya sosiologi dan sastra berbagi masalah yang sama. Seperti halnya sosiologi, sastra juga berurusan dengan manusia dalam masyarakat sebagai usaha manusia untuk menyesuakan diri dan usahanya untuk mengubah masyarakat itu. Dengan demikian, novel dapat dianggap sebagai usaha untuk menciptakan kembali dunia sosial yaitu hubungan manusia dengan keluarga, lingkungan, politik, negara, ekonomi, dan sebagainya yang juga menjadi urusan sosiologi. Dapat disimpulkan bahwa sosiologi dapat memberi penjelasan yang bermanfaat tentang sastra, dan bahkan dapat dikatakan bahwa tanpa sosiologi, pemahaman kita tentang sastra belum lengkap.

Rahmat Djoko Pradopo (1993:34) menyatakan bahwa tujuan studi sosiologis dalam kesusastraan adalah untuk mendapatkan gambaran utuh mengenai hubungan antara pengarang, karya sastra, dan masyarakat.

Pendekatan sosiologi sastra yang paling banyak dilakukan saat ini menaruh perhatian yang besar terhadap aspek dokumenter sastra dan landasannya adalah gagasan bahwa sastra merupakan cermin zamannya. Pandangan tersebut beranggapan bahwa sastra merupakan cermin langsung dari berbagai segi struktur sosial hubungan kekeluargaan, pertentangan kelas, dan lain-lain. Dalam hal itu tugas sosiologi sastra adalah mengubungkan pengalaman tokoh-tokoh khayal dan situasi ciptaan pengarang itu dengan keadaan sejarah yang merupakan asal usulnya. Tema dan gaya yang ada dalam karya sastra yang bersifat pribadi itu harus diubah menjadi hal-hal yang bersifat sosial.

Tuesday, January 27, 2009

Defamiliarisasi

Defamiliarisasi merupakan “keganjilan” teks sastra dalam upaya menampilkan kekhasan karya sastra. Victor Shlovsky seperti dikutip oleh Redyanto Noor menyatakan bahwa ‘Defamiliarization is found almost everywhere form is found.’ Kutipan tersebut mempunyai arti bahwa Hal-hal yang sudah biasa kita dengar dalam kehidupan sehari-hari diubah fungsi ataupun pemahamannya menjadi asing dan ganjil atau aneh. Tujuannya agar pembaca lebih tertarik pada bentuk, dan lebih menyadari hal-hal sekitarnya.

Pada awalnya konsep defamiliarisasi digunakan oleh kaum formalis untuk mempertentangkan karya sastra dengan kehidupan atau kenyataan sehari-hari. Kecenderungan tersebut awalnya hanya digunakan dalam puisi saja, namun di kemudian hari mereka berupaya untuk memadukan unsur defamiliarisasi ke dalam bentu karya sastra yang lain. Dalam kerutinan ajaran sehari-hari, persepsi kita dan respon kita akan realitas menjadi basi dan membosankan. Dengan kita masuk ke dalam kesadaran dramatik bahasa, sastra menyegarkan respon-respon habitual macam ini dan membuat objek menjadi lebih ‘terlibat’.

Victor Borisovick Shklovsky merupakan salah seorang pelopor formalisme. Ia mempunyai ciri khas dalam penelitiannya terhadap karya sastra, yaitu memandang karya sastra berdasarkan kesastraannya dan bukan hanya sekedar isinya saja. Sifat kesastraan ini muncul dengan cara menyusun dan mengolah bahan cerita yang bersifat netral atau biasa (fabula). Cara pengolahan atau penyulapan ini akan menghasilkan karya sastra yang indah (suzjet). Yang dimaksud dengan Fabula adalah bahan dasar berupa jalan cerita menurut logika dan kronologi peristiwa, sedangkan sjuzet merupakan sarana untuk menjadikan jalan cerita menjadi “ganjil” atau aneh. Sementara yang dianggap sebagai penyulapan dalam prosa naratif misalnya dengan pemakaian bahasa dalam teks si penutur, pergeseran prespektif, pemakaian simbol-simbol dan juga unsur yang menyangkut ‘isi’ yang harus memberi motivasi bagi penyusun cerita. (Dick Hartoko, 1989: 33)

Pusat perhatian Shklosvky dalam pandangannnya mengenai sastra ialah pengertian pengasingan atau disebut juga dengan defamiliarisasi (membuat aneh). Teknik ini membuat sesuatu yang umum dalam kehidupan kita sehari-hari, menjadi sesuatu yang aneh atau asing, sehingga untuk menangkap apa maksud sebenarnya diperlukan waktu yang agak lama.
‘The technique of art is to make objects ‘unfamiliar’, to make forms difficult,
to increase the difficulty and length of preception because the process of
perception is an aesthetic end itself and must be prolonged.’ (Davis, 1986: 55)

Sama seperti seni-seni lainnya, sastra mempunyai kemampuan untuk memperlihatkan kenyataan dengan suatu cara baru sehingga sifat otomatik dalam pengamatan dan penerapan kita didobrak. Contoh sederhana dari defamiliarisasi akan kita dapatkan dalam salah satu karya Tolstoy yang berjudul Shame. Tolstoy mengemukakan kata mencambuk tidak dengan secara langsung tetapi melalui penggambaran sebagai berikut: ‘to strip people who have broken the law, to hurl them to the floor, and to rap on their bottom with switches’ (Davis, 1986: 56). Akibat yang ditimbulkan ialah kita tidak secara langsung atau otomatis mengetahui apa yang dimaksud Tolstoy dalam kalimatnya, meskipun kata ‘mencambuk’ adalah kata yang sering digunakan dalam bahasa sehari-hari. Hanya dengan berfikir agak lama, mengolah dan menyerapnya, barulah kita dapat menyimpulkan makna penggambaran Tolstoy tadi.
‘After we see an object several times, we begin to recognize it. The object is
in front of us and we know about it, but we do not see it-hence we cannot say
anything significant about it. Art removes objects from the automatism of
perception in several ways.’ (Davis, 1986: 56)

Gaya bahasa yang menonjol atau menyimpang dari yang biasa, menggunakan teknik cerita yang baru, membuat sesuatu yang umum menjadi aneh atau asing inilah yang akan membuat karya sastra itu menjadi lebih indah dan berseni.

J.K Rowling menyegarkan dunia sastra modern dengan memasukkan konsep defamiliarisasi ke dalam karyanya. Dalam dunia Harry Potter yang diciptakan Rowling terdapat banyak sekali ‘keanehan’ yang ditampilkan, baik berupa benda, tempat, maupun peristiwa yang terjadi dalam cerita. Novel ini berpeluang untuk dianalisis dengan teknik defamiliarisasi karena cara pengolahannya terlihat jelas dalam gaya bahasa yang digunakan maupun dalam simbol.

Monday, January 26, 2009

Sekilas Tentang Sastra Bandingan

Sastra bandingan awalnya memang berkembang di Perancis, Inggris, Jerman dan negara-negara Eropa lainnya. Aliran Perancis berpendapat bahwa sastra bandingan adalah kajian perbandingan dua karya satra atau lebih lebih dengan penekanan pada aspek karya satra itu sendiri. (Trisma & Sulistiati, 2002 : 3).

Sastra bandingan adalah sebuah studi teks across cultural. Studi ini merupakan upaya interdisipliner, yakni lebih banyak memperhatikan hubungan sastra menurut aspek waktu dan tempat. Dari aspek waktu, sastra bandingan dapat membandingankan dua atau lebih periode yang berbeda. Sedangkan konteks tempat, akan mengikat satra bandingan menurut wilayah geografis sastra. Konsep ini merepresentasikan bahwa sastra bandingan memang cukup luas, bahkan pada perkembangan selanjutnya konteks sastra bandingan tertuju pada bandingan sastra dengan bidang lain. Bandingan ini, guna merunut keterkaitan antar aspek kehidupan (Endraswara, 2008 : 128).
Benedecto crose (Giffod,1995:1), berpendapat bahwa studi sastra bandingan adalah kajian yang berupa eksplorasi perubahan (vicissitude), alterna-tion (penggatian), pengembangan (develpment), dan perbedaan timbal balik di antara dua karya atau lebih. Sastra bandingan terkait dengan ihwal tema dan idea sastra.
Dalam pandangan Jost (dalam Rahman, 2000) sastra bandingan juga dapat meliputi aspek: pengaruh, sumber ilham (acuan), proses pengambilan ilham atau pengaruh dan tema dasar. Dalam kaitan ini ada empat kelompok kajian sastra bandingan jika dilihat dari aspek objek garapan yaitu; Pertama, kategori yang melihat hubungan karya sastu dengan lainnya dengan menelusuri juga kemungkinan adanya pengaruh satu karya terhadap karya yang lain. Termasuk dalam interdispliner dalam sastra bandingan adalah filsafat, sosiologi agama dn sebagainya. Kedua, kategori yang mengkaji tema karya sastra. Ketiga, kajian terhadap gerakan atau kecenderungan yang menandai suatu peradaban. Keempat, analisis bentuk karya sastra (genre).

Dalam lingkup kajian demikian, secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua golongan yakni: (1) kajian persamaan dan (2) kajian konsep pengaruh. Kajian persamaan, tidak selau menjawab masalah; mengapa terdapat persamaan namun juga lebih kepada apabila dua karya sastra memiliki kesamaan berarti ada hal paralel dalam bidang tertentu (kasim, 1996:17-18).

Thursday, January 22, 2009

Apa itu Plot?

Plot atau alur adalah struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang disusun sebagai urutan bagian-bagian dalam keseluruhan fiksi. Dengan demikian, plot merupakan perpaduan unsur-unsur yang membangun cerita sehingga menjadi kerangka utama cerita.

Plot merupakan kerangka dasar yang amat penting. Plot mengatur bagaimana tindakan-tindakan harus berkaitan satu sama lain, bagaimana suatu peristiwa mempunyai hubungan dengan peristiwa lain, serta bagaimana tokoh digambarkan dan berperan dalam peristiwa itu.
Perrine dalam bukunya Literature: Structure, Sound and Sense menjelaskan bahwa “plot is the sequence of incident or events which the story is composed and it may conclude what character says or thinks, as well as what he does, but it leaves out description and analysis and concentrate ordinarily on major happening” (1974:41).
Robert Stanton dalam bukunya An Introduction to Fiction menyatakan “the comflict moves the story because it is generating center out of which the plot grows which becomes the core of the story’s structure. (1965: 16)
William Kenney dalam bukunya How To Analyze Fiction menyatakan “the structure of plots divided into three parts. They are the beginning which consists of the exposition on introduction, the middle which consists of conflict, complication and climax and the end which converses denouement or resolution” (1966:13).
Dalam bentuk sederhana plot dibagi menjadi 3, yaitu:
1. Beginning atau awal cerita
Bagian awal berfungsi sebagai eksposisi yaitu bagian yang memberikan informasi yang diperlukan oleh pembaca agar bisa memahami jalan cerita selanjutnya. Dibagian awal ini biasanya berisi nama tokoh-tokoh, gender, usia, pekerjaan, kondisi sosial, tempat tinggal, dan hal-hal yang menurut penulis penting untuk diketahui oleh pembaca. Pada awal ini biasanya diakhir dengan cerita yang tidak stabil karena cerita yang tidak stabil inilah yang akan memicu kejadian yang akan terjadi berikutnya.
2. Middle atau tengah cerita
Bagian tengah cerita diawali dengan hal-hal yang bisa memicu konflik karena pada bagian tengah cerita ini berupa rangkaian konflik yang intensitasnya semakin tinggi dan mencapai kepuncak dan disebut dengan klimaks sebuah cerita. bagian inilah yang biasanya paling ditunggu oleh pembaca.
3. End atau akhir cerita
Bagian akhir cerita ini berisi penyelesaian atas masalah-masalah yang terjadi dibagian tengah cerita.

Di dalam plot juga terdapat konflik. Konflik yang terjadi disebabkan adanya motivasi dan tindakan serta unsur sebab akibat. Kenney (1966:95) menyatakan ‘motivation as reason why the characters do what they do.’ Sedangkan Gorys Keraf (1982:160-162) menyatakan bahwa ‘dalam sebuah cerita, seorang tokoh dapat mempunyai bermacam-macam motivasi yang mendorongnya melakukan suatu tindakan.’
Penjelasan Potter lebih jelas mengenai konflik adalah
‘the term ‘conflict’ is familiar; it is the result of the oppisition between at least two sides. The conflict may be overt, and violent, or implicit and subdued; it may be visible in action, or it may take place entirely in a character’s mind; it may exist in different levels of meaning; but by definition it is inherent in the concept of plot.’ (1967:25-26)

Tindakan adalah sesuatu yang dilakukan tokoh karena didorong oleh motivasi. Menurut Brooks (1936:7), definisi tindakan adalah
‘The action, then, is the raw material of plot. It is the story behind the story as we find is formed into fiction. The plot is the action as we find it projected, by whatever selection of events and distortion of chronology, into the fiction that we actually confront.’

Menurut Hartoko dalam bukunya yang berjudul Pemandu di Dunia Sastra (1985:48), plot dibedakan menjadi dua jenis:
1. Plot Flash-back (alur campuran)
Tehnik ini digunakan pengarang untuk menampilkan kembali kejadian di masa lalu.
2. Plot Flash-forward (alur maju)
Dalam suatu cerita, teknik ini lebih mudah di pahami pembaca karena cerita yang ditampilkan maju terus ke depan.
Melalui plot pembaca dapat mengikuti urutan cerita lebih mudah. Tatanan plot dalam sebuah cerita yang lebih rinci menurut Mochtar Lubis (1981:17) meliputi:
1. Perkenalan.
Dalam bagian perkenalan berisi mengenai tokoh, konflik, dan latar dari cerita yang dibahas dalam novel.
2. Pemaparan masalah
Bagian dimana cerita mulai berkembang sebelum konflik mencapai puncak.
3. Klimaks
Bagian dimana permasalahan dalam novel mencapai puncaknya.
4. Anti klimaks
Bagian dimana permasalahan dalam cerita mulai ada solusinya.
5. Penyelesaian masalah.
Bagian dimana permasalahan dalam cerita dapat diselesaikan.

Plot mempunyai peranan penting dalam menunjukkan perubahan suatu cerita. Plot yang konsisten dengan cerita atau tidak melompat-lompat akan lebih mudah dimengerti oleh pembaca daripada plot yang melompat-lompat.